Rabu, 27 Februari 2013

Surat Praharatna

Ada saat di mana kata yang merangkum dunia itu tak bisa menjelaskan. Tak ada yang bisa menyangkal bahwa sepasang mata yang terlalu indah itulah penyebabnya. Pikiranmu tak lagi dalam belenggu. Kau adalah pemustaka swaka raya kepandaian dunia. Kau bilang tulisan puisi, essai dan lirikmu tentang hidup, cinta dan segala kawan lawannya adalah bentuk apresiasi ayat-ayat suci. Pandanganmu mencerminkan cakrawala. Sikapmu terpuji tanpa cela walau kita yakin dosa itu ada. Nasehatmu seperti harpa dalam makna cinta, mitosnya menjanjikan surga dipuncak dawai. Lalu surat itu datang kepadaku, kau kabarkan tentang Praha dan rasa rindu kepada nusantara. "Aku tak akan kembali dalam waktu dekat, hidupku memang untuk teater tapi negaramu adalah "lakon" yang menuntut kematian di akhir babaknya". Aku bisa merasakan bahagia dan getirmu. Kau selipkan puisi dalam suratmu

Rasa rindu memang tak cukup datang satu kali
Kamu harus membuang lupa kepada kotak kenangan berisi kumpulan perangko dari berbagai negara yang kita pendam di bawah pohon mangga dekat rumah itu.

Aku ingin melupakan pelukan terakhirmu yang mengisyarakat perpisahan sembari menikmati angan ketika aku kembali dan kau ada di sana. 
Menjemput. 
Memeluk. 
Mungkin menangis. 
Lalu bercanda. 
Berpura acuh, tapi aku tahu kau awas.

Kenangan indah memang tak pernah padam.
Api itu akan terus menyala.
Aku melihat kebelakang untuk melihat alasan mengapa aku harus pulang. 
Sementara aku melihat kedepan untuk melihat alasan mengapa kini aku memilihmu.

Bagian akhir surat itu memberikan lega walau liris. Setidaknya aku tahu kamu akan pulang, walau entah kapan. Mungkin saat aku ingatkan kepadamu tentang hutangku untuk membawamu mencicipi 100 rasa es krim Venesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar