Minggu, 13 Agustus 2017

Mural di IFI Jakarta





Mural baru di dinding Institut Fran├žais Indonesia Jakarta difoto dengan kamera Polaroid 635 CL film 600. 

Pengaturan cahaya diatur seimbang tengah sehingga warna-warna yang seharusnya vivid terlihat lebih redup namun tetap menunjukkan warna yang mendekati saturasi sebenarnya.

"Off The Wall IFI", Jakarta © 2017 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved 


Kamis, 10 Agustus 2017

Self Portrait Gita



Self portrait Gita Cahyandari dibuat dengan kamera Polaroid Supercolor 636 CL di kawasan SCBD setelah pertemuan singkat di Kafe Tanamera. Foto ini adalah foto ketiga yang berhasil dibuat dengan kamera bekas buatan tahun 1983. 

Warna yang dihasilkan masih seperti dua foto sebelumnya yaitu seolah diberi tambahan filter atau tema warna sephia. 

Pengaturan tingkat terang pada kamera diatur pada posisi tengah untuk menghindari over bright. Foto sebelumnya menggunakan pengaturan tingkat terang yang tinggi. Saturasi yang dihasilkan pada foto ini terlihat lebih rendah dan lembut.

"Self Portrait Gita", Jakarta © 2017 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved 



Selasa, 08 Agustus 2017

Foto Pertama Polaroid 635 CL




Dua foto pertama yang berhasil dibuat dengan kamera bekas Polaroid Supercolor 635 CL dengan film 600 dari Imposibble Project. Foto pertama adalah foto bendera Indonesia yang sudah berkibar di rumah-rumah Jakarta karena sebentar lagi Indonesia akan merayakan hari kemerdekaannya. Foto kedua adalah potret diri saya sendiri yang difoto oleh Syaiful Arifin

Kamera ini menghasilkan warna yang menggambarkan atmosfer foto tahun 1980an. Format frame foto square polariod masih menjadi ciri khas yang unik.

Terima kasih banyak untuk Melisa yang sudah repot-repot bawa film 600 dari Beijing karena di Jakarta harganya mahal dan kamera ini fungsinya masih spekulasi jadi untuk mengurangi resiko kerugian yang besar, diputuskan untuk membeli film di Beijing dengan harga murah walau sedikit lama karena menunggu sang messenger pulang ke Indonesia.


"First & Second Frame", Jakarta © 2017 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved

Sabtu, 29 Juli 2017

Pasar Senen Kebakaran




Pasar Senen kebakaran adalah sebuah peristiwa yang cukup menghebohkan waktu itu. Aku belum benar-benar tidur waktu telepon genggam berdering karena beberapa akun berita langganan mengeluarkan notifikasi breaking news bahwa pasar legendaris di Jakarta ini mulai dilalap api sejak subuh. Aku segera siapkan alat, berpakaian seadanya dan segera berangkat ke lokasi. Sesampainya di sana, Pasar Senen sudah kelam ditutupi api dan asap gelap. Beberapa bagian bahkan sudah tidak berbentuk.

Aku mulai mengambil foto sebisa mungkin supaya tidak kehilangan momen--karena ini yang pertama bagiku meliput kebakaran. Namun tak berapa lama ada seorang ibu bersama anaknya berlari ke arahku sambil berteriak tentang dagangan mereka yang ikut hangus terbakar. Aku ingin menolong anaknya yang matanya merah berair pedih terkena asap tapi apa daya mataku juga demikian pedihnya dan aku harus mengambil foto. Di saat seperti ini aku bimbang, menyerahkan kacamata pelindungku ke anak itu atau tetap aku pakai. Akhirnya aku tahu kalau anak itu juga ditolong, diberikan masker oleh relawan yang ada. Aku merasa bersalah tapi ya sudahlah toh aku tahu akhirnya dia ditolong dan baik-baik saja.

Kemudian, aku melihat beberapa raut wajah korban para pedagang yang tidak sempat menyelamatkan dagangannya, pengunjung pasar yang diam melihat dari jalan layang bahwa pasar langganannya terbakar habis, dan para pemadam kebakaran yang terlihat kelelahan. Kadang di momen-momen seperti itu ingin rasanya ikut menolong tapi tugasku di sini adalah mengambil foto--akhirnya aku hanya bisa memastikan bahwa seorang yang butuh pertolongan itu ada yang menolong--Ada kalanya aku ikut menolong maka aku harus tolong sesuai kemampuanku, padahal kemanusiaan terkadang lebih membutuhkan dari sekedar sesuai kemampuan.


Pasar Senen on Fire

"Pasar Senen on Fire", Jakarta © 2017 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved 

Senin, 24 Juli 2017

Spice of Life



Aku sudah pindah dari Yogyakarta. Sekarang aku baru bisa percaya kalau kota itu memang benar-benar punya daya magis. Blog ini seolah-olah berhenti benafas setelah aku pindah dari sana. Tanpa disadari, Yogyakarta memang sebuah ruang yang sangat filosofis. Banyak hal di sana bisa jadi puisi. Dulu aku biasa membuat puisi atau cerita pendek di sini, sekarang sudah sangat jarang. Aku yakin ini terjadi karena aku sudah tidak di Jogja lagi.

Sekarang aku tinggal di Jakarta. Pikiranku sama seperti anak muda perantau lainnya yang berpikir bahwa Jakarta memang lahan kesempatan. Semua mimpi bisa mendadak diwujudkan.

Tulisan ini aku buat untuk membangkitkan naluri tulis-menulisku yang hampir hilang. Blog ini akan aku isi dengan cerita singkat tentang foto-foto jurnalistikku di Jakarta. Beberapa foto telah dimuat di halaman Jakarta Globe, mungkin beberapa tidak atau unpublished. Aku akan bercerita tentang proses pengambilan foto atau hal-hal menarik yang aku dapatkan ketika proses berfotografi bersama momen-momen foto itu dibuat. Aku rasa hal ini menjadi penting untuk dituliskan karena menjadi fotojurnalis di Jakarta membuatku melewati banyak hal dalam waktu yang relatif singkat. Foto-foto yang aku ciptakan juga berada sangat dekat dengan ibukota itu artinya foto-foto ini mendapat eksposur yang cukup untuk bicara tentang apa yang terjadi di Indonesia, tentu dengan asumsi sederhana bahwa Jakarta bisa sedikit mewakili Indonesia. 

Mari mulai bicara foto. Foto cabai itu adalah foto pertamaku yang dimuat untuk media tempatku bekerja sekarang, Jakarta Globe. Foto ini diberi judul Spice of Life oleh editorku. Foto sederhana yang tidak membutuhkan teknik tinggi ini aku ambil di Pasar Tebet saat harga cabai sedang melambung. Foto ini sebenarnya bukan tugas pertamaku untuk meliput peristiwa yang mempunyai nilai berita, namun ini pengalaman pertamaku untuk membuat foto di dalam pasar dengan sebuah beban kerja yang wajib dipenuhi. Awalnya aku agak kesulitan untuk mendapatkan foto ini tentu pendekatan a la wartawan yaitu ngobrol santai untuk mendapat banyak data dan keterangan-keterangan unik belum aku kuasai betul ditambah lirikan mata para pengunjung, penjual dan preman pasar di sana seperti menghakimi.

Aku hampir saja menarik kameraku masuk ke dalam tas dan memutuskan untuk mengambil foto dengan kamera handphone saja. Namun memang nasib baik datang padaku, seorang bapak-bapak tahu kalau aku penutur bahasa Jawa karena logat sejak lahir ini belum bisa beradaptasi dengan logat khas Jakarta. "Uwis mas nggo boso Jowo wae", katanya sambil menghitung cabai. Sejak ucapan itu aku bisa ngobrol lama dengan bapak itu sekaligus menjadi akrab dengan para pedagang cabai lain dan preman pasar yang kebanyakan juga penutur bahasa Jawa. Setelah suasa akrab muncul akhirnya aku bisa mengambil foto dengan lebih leluasa. 

Banyak foto terekam dan hasilnya lumayan bagus. Beberapa foto yang membutuhkan pendekatan khusus juga berhasil terekam, namun editor memilih foto ini untuk dimuat di Jakarta Globe. Waktu tahu ternyata hanya satu foto ini yang dimuat di halaman foto, aku tertawa pada diriku sendiri. Tapi ternyata editor punya rencana lain, akhir-akhir ini aku baru tahu kalau foto-foto yang lain digunakan untuk ilustrasi beberapa berita dengan tema yang sama. 

Ya itulah kesan pengalaman pertama menjadi fotojurnalis di Jakarta. Aku ibaratkan memang seperti makan cabai, seberapa pedas rasanya tidak ada yang tahu pasti. Tapi yang jelas itu pedas.



Spice of Life

"Spice of Life", Tebet, Jakarta Selatan © 2017 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved

Selasa, 16 Agustus 2016

Meradang


Aku sedang meradang. Tidak hanya diujung saja. Tapi sedalam-dalamnya.

"Meradang", Puncak Tomia © 2014 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved

Cuma Biru


Di mana-mana cuma biru. Aku akan terus berburu. Sampai waktu yang lupa aku.

"Cuma Biru", Kebumen © 2016 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved

Jumat, 17 Juni 2016

Wajah Lama, Kamera Lama



Kamera lama. Wajah lama. Semua lama. Yang baru hanya perasaan-perasaan dalam kenyataan-kenyataan. Atau sebaliknya. Kamera lama. Wajah lama. Semua lama. Bersyukurlah hidup jika dapat berlama-lama. Bersama semua lama yang ternyata masih sama.

 "Wajah Lama. Kamera Lama", Yogyakarta © 2016 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved

Senin, 13 Juni 2016

Buka Puasa


 Berbuka puasa adalah sebuah pertemuan, antara aku dan segala hal yang sering lupa aku syukuri. Puasa, adalah perjalanannya.

"Buka Puasa", Yogyakarta © 2016 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved

Anak Tangga


"Artists use lies to tell the truth while politicians use them to cover the truth up"

"Anak Tangga", Yogyakarta © 2016 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved 

Selasa, 19 April 2016

Lamunan

 Selamat menikmati hujan dan segala lamunannya 
Sebuah sementara dalam segala rasa di antara 



"Lamunan", Yogyakarta © 2015 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved

Rabu, 13 April 2016

Sebelum Hilang Identitas



  "The past is a great place and I don't want to erase it or to regret it, but I don't want to be its prisoner either"


"Sebelum Hilang Identitas", Alun-Alun Kebumen, Jawa Tengah © 2016 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved

Kamis, 31 Maret 2016

Love


 I don't know if we each have a destiny, or if we're all just floating around accidental like on a breeze, but I think maybe it's both. Maybe both is happening at the same time. I miss you Jretme. If there's anything you need, I won't be far away

"Dana - Chick and Soup", Yogyakarta © 2016 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved

Soul


 Proses pembuatan self-portrait yang menghadirkan subjek foto dan fotografer terkadang justru memunculkan bias. Sisi sudut pandang dan cerita si fotografer dapat muncul lebih dominan, padahal self-portrait didaulat untuk bercerita lebih banyak tentang diri subjek foto. Perlu pendekatan yang pas untuk mendapatkan jarak. Melalui jarak, walau sejengkal terciptalah self-portrait yang mungkin hendak mengatakan, "dalam banyak hal setiap orang membutuhkan sekoci untuk bisa bahagia. Supaya tidak bias, supaya terus menyenangkan dan tidak rusak hati nurani".

"Nikolas Nino - Chick and Soup", Yogyakarta © 2016 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved

Color


 Self-portrait sering dibuat hitam putih untuk memudahkan keluarnya "jiwa" subjek foto, namun ketika warna menjadi hal yang harus ada, kesulitan terbesar adalah mengkombinasikan keduanya antara "warna" dan "jiwa" itu sendiri agar dapat keluar bersama dalam porsi yang pas dan menghasilkan sesuatu yang tak hanya tentang gambar diri sendiri.

"Gusti Arirang - Chick and Soup" , Yogyakarta © 2016 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved