Jumat, 10 Januari 2014

Beretnofotografi


Etnofotografi adalah mempelajari kebudayaan melalui fotografi sebagai citra visual. Citra visual menghadirkan properti-properti kebudayaan. Kehadiran properti-properti tersebut memudahkan kita untuk “melihat” atau mengaktualisasi kebudayaan. Kebudayaan pada dasarnya adalah mengenai identitas. Identitas dibangun melalui citra-citra visual. Jadi etnofotografi adalah dialektika visual dan unsur-unsur lain dalam identitas
Situasi dialektik memungkinkan kita untuk menjadikan visual menjadi teks atau dengan kata lain membaca citra visual. Melalui etnofotografi, foto, gambar dan teks saling berdialektika.
Suatu citra visual dapat menimbulkan signifikasi atau pemaknaan. Makna-makna yang muncul sebenarnya tidak berasal dari foto atau gambar itu sendiri tetapi muncul pada otak atau imajinasi orang yang melihat foto. Beretnofotografi memposisikan fotografi bukan hanya sebagai rekaman peristiwa tapi sebagai citra tanpa kata di mana sebuah foto bukan bukti realita tapi realita baru.
Realita baru yang “dibaca” dalam foto merupakan sebuah “permainan tafsir” yang rasional dan masuk akal karena dibentuk oleh pengalaman-pengalaman yang reflektif karena pengalaman bukan suatu yang terisolasi. Pengalaman tidak tersusun oleh kesendirian tetapi dari relasi-relasi dari hal-hal yang telah terjadi sebelumnya. Pembacaan ini bukanlah untuk menduplikasi citra melainkan untuk mengeksplisitkan atau menegaskan seperangkat konotasi dalam citra (foto) yang sebelumnya sudah ada (implisit). Etnofotografi belajar tentang proses reflektif dari sebuah foto atau gambar yang kita lihat. Melihat foto bukan melalui “kamar gelap” (camera obscura) tapi melalui “kamar terang” (camera lucida). Melihat foto adalah proses menghubungkan pengalaman dengan akal yang kemudian direfleksikan karena menemukan diri sendiri di dalam foto atau dengan kata lain menjadikan fotografi sebagai cermin.


           Roland Barthes memberikan beberapa istilah untuk etnofotografi dalam bukunya yang berjudul Camera Lucida. Istilah-istilah itu di antaranya, operator adalah orang yang memotret atau fotografer, spectrum adalah satu frame foto, yang dihadapkan oleh operator, stadium adalah gambar rata-rata atau keseluruhan, punctum adalah detail dari suatu foto, diibaratkan punctum seperti suatu yang lari menusuk perasaan kita dan yang terakhir adalah spectator yaitu penonton foto.
Punctum mempunyai kekuatan yang besar sehingga mengalahkan gambar rata-rata. Antropolog mempunyai kewajiban untuk setia pada detail. Argumentasi yang dibangun berdasarkan atas detail bukan pada suatu pernyataan pukul rata. Detail dengan detail yang berelasi itu tidak dilihat denotasinya tapi dimitoskan atau dibicarakan konotasinya.


           
Gambar 1 Musisi Jazz dari Swiss dan Jepang hadir di Tumpengan Pra-Acara Ngayogjazz 2013 di rumah Limasan, Desa Wisata Sidoakur, Yogyakarta .
               
Secara sederhana dalam beretnografi cara membaca foto seorang etnofotografer berbeda dengan jurnalis maupun fotografer. Jurnalis biasanya hanya membaca sebuah foto lewat studiumnya saja (gambar rata-rata). Caption yang diberikan adalah caption dari sudut pandang jurnalistik. Lalu fotografer biasanya hanya membaca foto lewat teknis-teknis pengambilan gambar dll. Tetapi seorang etnofotografer membaca sebuah foto dengan melakukan pemaknaan antara—dialektika—studium (gambar rata-rata) dengan punctum (gambar detail yang menusuk hati). Cara paling mudah untuk melihat punctum adalah setelah melihat sebuah foto dengan seksama, lalu pejamkan mata. Ketika memejamkan mata bagian paling diingat oleh otak secara otomatis akan muncul. Itulah punctumnya.



Gambar 2  Cara Melihat Foto Menurut Roland Barthes (punctum setiap orang bisa berbeda-beda)



Punctum yang terlihat digunakan untuk menyusun argumentasi. Argumentasi yang disusun berdasarkan interaksi—dialektika—antara punctum dan stadium. Dialektika ini bekerja untuk memperluas “perbincangan”. Argumentasi yang tersusun pada foto pada gambar 1, secara “etnofografi” dapat diperbincangkan sampai ke ranah yang  melampaui yang tampak dalam gambar. Ranah yang dapat dilampaui  adalah etnik, agama, gender, golongan, lokalitas, pariwisata, glokalisasi, gotong royong, keikhlasan, kerukunan sampai ke filosofi tumpengan dll. Pada akhirnya argumentasi yang tersusun digunakan untuk membuat benang merah bukan untuk membuat klaim.
Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa pemaknaan atau suatu tafsir bisa keliru? Atau berbeda? Hal seperti ini terjadi karena operator sebagai fotografer bekerja memotong peristiwa (melakukan fiksasi). Oleh karena itu foto terpenggal dan menjadi bagian yang tidak utuh. Foto lebih banyak menyembunyikan daripada memperlihatkan. Foto merekam banyak tapi juga memotong banyak itulah ironi dan paradox dalam fotografi  Spectator sebagai penafsir foto menghadapi kondisi dan jebakan-jebakan semacam ini. Oleh karena itu makna, tafsir dan pesan yang disampaikan tentang sesuatu harus benar-benar dipilah dan diolah dengan sangat baik dan teliti. 

Daftar Pustaka
Ajidarma, Seno Gumira. 2005. Kisah Mata. Jakarta: Galang Press.
            Barthes, Roland. 1981. Camera Lucida: Reflections on Photography. France: Hill and Wang.
Budiman, Kris. 2011. Semiotika Visual : Konsep, Isu, dan Problem Ikonisitas. Yogyakarta: Jalasutra.
Pink, Sarah. 2007. Doing Visual Ethnography. London: Sage Publication Ltd.

(tulisan pernah dimuat di http://antropologivisual.wordpress.com/2013/12/05/beretnofotografi/)
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar