Minggu, 10 Juli 2011

Tulisan

Selepas malam ini. Melepas lelah, penat yang tanpa akhir yang akan datang bertubi-tubi entah sekarang nanti atau besok.
Lebih baik untuk menikmati udara yang dihembuskan oleh dewi malam.
Suasana yang mistis tidak cukup sepi untuk membuat suara perutku terdengar walau aku tidak dalam keadaan lapar.
Mendengarkan alunan lagu dalam lamunan semu tentang berbagai inspirasi gambaran tentang sejarah masa lalu yang hanya bisa aku bayangkan aku rasakan rasanya yang semua ada rasa, rasa yang menumbuhkan berjuta asa, asa dalam jiwa, jiwa yang muda menuju tua, menuju tua mengampiri senja, senja yang telah lewat berganti malam, malam temaram hitam legam dan seperti semuanya runyam!

Aku sudah sedikit mendapat cahaya dan kesempatan seperti semuanya memang sudah ditakdirkan untuk bertemu. Bertemu dengan kamu. Kamu pertalian darahku.
Semuanya perlahan semakin dekat, dekat dan dekat, lebih dekat daripada hubungan malam dan temaram, lebih dekat daripada semua kata orang tentang pagi, dingin dan embun.
Entah mengapa menulis tanpa tujuan seperti ini lebih nyaman, seperti mencurahkan perasaan yang tak tercurahkan. Lama terpendam dan lama juga tak tercurahkan. Andaikan aku gunung, aku adalah gunung di dasar toba yang ingin meledak, ingin marah. Marah untukmu suatu saat nanti.
Aku dan kenyataan yang aku bawa bersamaku telah mematahkan pepatah lama filsafat kuno dari mulut leluhur, dunia tak selebar daun kelor itu, itu sudah bukan lagi menjadi bagian dari kenyataanku.
Semua lagi-lagi secara sempurna sudah terasa dekat.
dekat mendekat semakin dekat, hilangkan pekat, sembuhkan penat.
Aku melihat harapan..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar