Sabtu, 29 Juli 2017

Pasar Senen on Fire




Pasar Senen on fire is a pretty horrendous event of that time. I have not actually slept when the mobile phone rings because some news channels that I have subcibed popping up some breaking news notification told the legendary market in Jakarta has been destroyed by fire since 3 AM. 
I immediately prepared my camera and go to the location. Arriving there, Pasar Senen was already covered with dark fire and smoke cloud. Some buildings are even out of shape. 


I started taking photos as much as I could. This was the first time I cover a story about great fire. I saw a mother with her child running towards me while shouting about their wares. I want to help her daughter but I have to take photos and stay focus. My eyes was going to red because of the thick smoke. At that time, I hesitate, what should I do? Should I give my protective goggle to her or not. Finally, I knew that she was helped, a volunteer gave her a mask. I feel guilty but yes, never mind, I know she was finally helped and she was all right.


Photostory was published by The Jakarta Globe
Pasar Senen on Fire

"Pasar Senen on Fire", Jakarta © 2017 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved

Senin, 24 Juli 2017

Spice of Life



Aku sudah pindah dari Yogyakarta. Sekarang aku baru bisa percaya kalau kota itu memang benar-benar punya daya magis. Blog ini seolah-olah berhenti benafas setelah aku pindah dari sana. Tanpa disadari, Yogyakarta memang sebuah ruang yang sangat filosofis. Banyak hal di sana bisa jadi puisi. Dulu aku biasa membuat puisi atau cerita pendek di sini, sekarang sudah sangat jarang. Aku yakin ini terjadi karena aku sudah tidak di Jogja lagi.

Sekarang aku tinggal di Jakarta. Pikiranku sama seperti anak muda perantau lainnya yang berpikir bahwa Jakarta memang lahan kesempatan. Semua mimpi bisa mendadak diwujudkan.

Tulisan ini aku buat untuk membangkitkan naluri tulis-menulisku yang hampir hilang. Blog ini akan aku isi dengan cerita singkat tentang foto-foto jurnalistikku di Jakarta. Beberapa foto telah dimuat di halaman Jakarta Globe, mungkin beberapa tidak atau unpublished. Aku akan bercerita tentang proses pengambilan foto atau hal-hal menarik yang aku dapatkan ketika proses berfotografi bersama momen-momen foto itu dibuat. Aku rasa hal ini menjadi penting untuk dituliskan karena menjadi fotojurnalis di Jakarta membuatku melewati banyak hal dalam waktu yang relatif singkat. Foto-foto yang aku ciptakan juga berada sangat dekat dengan ibukota itu artinya foto-foto ini mendapat eksposur yang cukup untuk bicara tentang apa yang terjadi di Indonesia, tentu dengan asumsi sederhana bahwa Jakarta bisa sedikit mewakili Indonesia. 

Mari mulai bicara foto. Foto cabai itu adalah foto pertamaku yang dimuat untuk media tempatku bekerja sekarang, Jakarta Globe. Foto ini diberi judul Spice of Life oleh editorku. Foto sederhana yang tidak membutuhkan teknik tinggi ini aku ambil di Pasar Tebet saat harga cabai sedang melambung. Foto ini sebenarnya bukan tugas pertamaku untuk meliput peristiwa yang mempunyai nilai berita, namun ini pengalaman pertamaku untuk membuat foto di dalam pasar dengan sebuah beban kerja yang wajib dipenuhi. Awalnya aku agak kesulitan untuk mendapatkan foto ini tentu pendekatan a la wartawan yaitu ngobrol santai untuk mendapat banyak data dan keterangan-keterangan unik belum aku kuasai betul ditambah lirikan mata para pengunjung, penjual dan preman pasar di sana seperti menghakimi.

Aku hampir saja menarik kameraku masuk ke dalam tas dan memutuskan untuk mengambil foto dengan kamera handphone saja. Namun memang nasib baik datang padaku, seorang bapak-bapak tahu kalau aku penutur bahasa Jawa karena logat sejak lahir ini belum bisa beradaptasi dengan logat khas Jakarta. "Uwis mas nggo boso Jowo wae", katanya sambil menghitung cabai. Sejak ucapan itu aku bisa ngobrol lama dengan bapak itu sekaligus menjadi akrab dengan para pedagang cabai lain dan preman pasar yang kebanyakan juga penutur bahasa Jawa. Setelah suasa akrab muncul akhirnya aku bisa mengambil foto dengan lebih leluasa. 

Banyak foto terekam dan hasilnya lumayan bagus. Beberapa foto yang membutuhkan pendekatan khusus juga berhasil terekam, namun editor memilih foto ini untuk dimuat di Jakarta Globe. Waktu tahu ternyata hanya satu foto ini yang dimuat di halaman foto, aku tertawa pada diriku sendiri. Tapi ternyata editor punya rencana lain, akhir-akhir ini aku baru tahu kalau foto-foto yang lain digunakan untuk ilustrasi beberapa berita dengan tema yang sama. 

Ya itulah kesan pengalaman pertama menjadi fotojurnalis di Jakarta. Aku ibaratkan memang seperti makan cabai, seberapa pedas rasanya tidak ada yang tahu pasti. Tapi yang jelas itu pedas.



Spice of Life

"Spice of Life", Tebet, Jakarta Selatan © 2017 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved

Selasa, 16 Agustus 2016

Meradang


Aku sedang meradang. Tidak hanya diujung saja. Tapi sedalam-dalamnya.

"Meradang", Puncak Tomia © 2014 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved

Cuma Biru


Di mana-mana cuma biru. Aku akan terus berburu. Sampai waktu yang lupa aku.

"Cuma Biru", Kebumen © 2016 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved

Jumat, 17 Juni 2016

Wajah Lama, Kamera Lama



Kamera lama. Wajah lama. Semua lama. Yang baru hanya perasaan-perasaan dalam kenyataan-kenyataan. Atau sebaliknya. Kamera lama. Wajah lama. Semua lama. Bersyukurlah hidup jika dapat berlama-lama. Bersama semua lama yang ternyata masih sama.

 "Wajah Lama. Kamera Lama", Yogyakarta © 2016 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved

Senin, 13 Juni 2016

Buka Puasa


 Berbuka puasa adalah sebuah pertemuan, antara aku dan segala hal yang sering lupa aku syukuri. Puasa, adalah perjalanannya.

"Buka Puasa", Yogyakarta © 2016 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved

Anak Tangga


"Artists use lies to tell the truth while politicians use them to cover the truth up"

"Anak Tangga", Yogyakarta © 2016 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved 

Selasa, 19 April 2016

Lamunan

 Selamat menikmati hujan dan segala lamunannya 
Sebuah sementara dalam segala rasa di antara 



"Lamunan", Yogyakarta © 2015 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved

Rabu, 13 April 2016

Sebelum Hilang Identitas



  "The past is a great place and I don't want to erase it or to regret it, but I don't want to be its prisoner either"


"Sebelum Hilang Identitas", Alun-Alun Kebumen, Jawa Tengah © 2016 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved

Kamis, 31 Maret 2016

Love


 I don't know if we each have a destiny, or if we're all just floating around accidental like on a breeze, but I think maybe it's both. Maybe both is happening at the same time. I miss you Jretme. If there's anything you need, I won't be far away

"Dana - Chick and Soup", Yogyakarta © 2016 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved

Soul


 Proses pembuatan self-portrait yang menghadirkan subjek foto dan fotografer terkadang justru memunculkan bias. Sisi sudut pandang dan cerita si fotografer dapat muncul lebih dominan, padahal self-portrait didaulat untuk bercerita lebih banyak tentang diri subjek foto. Perlu pendekatan yang pas untuk mendapatkan jarak. Melalui jarak, walau sejengkal terciptalah self-portrait yang mungkin hendak mengatakan, "dalam banyak hal setiap orang membutuhkan sekoci untuk bisa bahagia. Supaya tidak bias, supaya terus menyenangkan dan tidak rusak hati nurani".

"Nikolas Nino - Chick and Soup", Yogyakarta © 2016 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved

Color


 Self-portrait sering dibuat hitam putih untuk memudahkan keluarnya "jiwa" subjek foto, namun ketika warna menjadi hal yang harus ada, kesulitan terbesar adalah mengkombinasikan keduanya antara "warna" dan "jiwa" itu sendiri agar dapat keluar bersama dalam porsi yang pas dan menghasilkan sesuatu yang tak hanya tentang gambar diri sendiri.

"Gusti Arirang - Chick and Soup" , Yogyakarta © 2016 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved

 

Sabtu, 19 Maret 2016

Seduce Amuse and Entertain


A photographic portrait is a picture of someone who knows he is being photographed, and what he does with this knowledge is as much a part of the photograph as what he's wearing or how he looks -Richard Avedon

"Nada" Roaster and Bear, Yogyakarta © 2016 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved 

Selasa, 23 Februari 2016

Depan Layar Kaca


Selfie tidak sama dengan self-portrait. Perbedaan keduanya terletak pada cara dan teknik fotografi itu sendiri. Self-portrait adalah sebuah cara atau teknik mengabadikan portrait diri sendiri yang lahir pada era Renaissance yang pada masa itu tentu bukanlah sebuah teknik fotografi tetapi teknik melukis. Sebuah lukisan self-portrait tidak diciptakan oleh diri sendiri melainkan dengan bantuan orang lain yang biasanya seorang professional. Selfie dapat dikatakan sebagai inovasi baru berself-portrait. Layaknya sebuah inovasi selfie menghilangkan beberapa bagian sekaligus menghadirkan bagian lainnya sebagai pembaruan dalam self-portrait. Selfie tidak menggunakan lukisan sebagai media rekam dan kebutuhan akan professional dalam proses penciptaannya. 

Sepakat dengan pendapat Farias (2015) yang mengatakan bahwa, “A self-portrait is not the same as a selfie; there is a difference in their origin. The first is a genre, born during the Renaissance, and the second, is a product of the 21st century. In the past, if a portrait were desired, people would look for an artist or a professional photographer”. Dalam menciptakan foto selfie, seseorang tidak perlu memanggil seorang fotografer professional. Proses penciptaan foto selfie jauh lebih efisien daripada proses penciptaan self-portrait sendiri. Semua orang bisa menciptakan foto selfie namun tidak dengan self portrait. Penciptaan self portrait memerlukan detail dan pendekatan personal antara subjek dengan pelukisnya. Jauh lebih komplek daripada penciptaan foto selfie yang hanya diciptakan oleh diri sendiri. Begitu juga dengan prinsip fotografi self-portrait yang kurang lebih mempunyai prinsip yang sama dengan self-portrait era Renaissance hanya berbeda di media lukisan dan fotografi. Meskipun demikian, Farías (2015) mengatakan bahwa, “a selfie it is not critical to have any artistic skills or use complicated signs and symbols”, saya tidak sepakat dengan pendapat ini karena pada kenyataannya saat ini walaupun proses penciptaannya dapat dikatakan sangat sederhana namun bukan berarti selfie tidak dapat menjadi sebuah karya seni yang artistic dan dibicarakan secara serius.

Lalu perbedaan yang lain terletak pada konteks di mana keduanya berada setelah diciptakan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa self-portrait diciptakan dalam bentuk material atau fisik. Sementara selfie diciptakan sebagai sebuah file atau data tidak untuk dicetak atau dijadikan material fisik. Selfie diciptakan untuk diunggah ke media sosial dibicarakan dalam jaringan media baru (new media).

Selain itu self-portrait dan selfie juga mempunyai komposisi yang berbeda. Self-portrait sebagai sebuah penggambaran akan diri sendiri dapat berbicara lebih banyak karena diciptakan melalui mata orang lain untuk menghadirkan identitas, cerita atau gambaran yang sebenarnya dari subjek yang dilukis atau difoto. Berbeda dengan selfie yang secara komposisi hanya memungkinkan untuk dilihat sejarak panjangan lengan, posisi wajah, spontanitas, dan permainan ekspresi. Foto selfie hanya memperlihatkan bagian-bagian terbaik dari seseorang.



"Depan Layar Kaca", Pasar Triwindu, Solo © 2016 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved

Selasa, 09 Februari 2016

Self-Portrait




 Menciptakan sebuah #selfportrait dalam fotografi masih menggunakan prinsip penciptaan selfportrait via lukisan yg muncul pertama kali pada era renaissance dulu yaitu menggunakan jasa dan kemampuan orang lain biasanya profesional yang secara singkat telah melakukan pendekatan personal untuk mengetahui keunggulan bahasa dan fitur-fitur tubuh subjek minimal agar diketahui harus seperti apakah selfportrait terbaik yang akan diciptakan.

"The Selfportrait", Yogyakarta © 2016 Mas Agung Wilis Yudha Baskoro ; All Rights Reserved