Senin, 06 Februari 2012

Jumat, 03 Februari 2012

Watukumpul

Melukis di tembok. Senyuman di awal

Dari Semingkir

Menuju ahli pikir

Di atas coak. Kendaraan dengan joki paling hebat.


Dari Bentang menuju Tambi

Susu jahe hangat

Foto-foto

Yang lalu biarlah berlalu

Boneka beruang

Kitab, buku. Itu penerangan.

Setengah perjalanan dari Bentang ke Watukumpul. Bertemu air adalah sumber kehidupan.


Menyeberangi kali Lumeneng yang tak 'meneng'

Pasar-an Watukumpul

Ulang tahun Gita asololley

Anak Sungai

Gregorius Dhamang, sebuah babi sebuah kenyataan

Boe & Duroh?


Nino jongkok

Kopi pahit kopi pahit

Api itu penerang di saat itu

Jagung kering, kering semua, semua kering

1,5 juta perminggu

dibohongi satu kilometer

Menunggu waktu Jogja kembali. Senyuman di akhir

Melakukan segala sesuatu untuk yang pertama kali pasti selalu mendapat kesan yang mendalam. Ibarat pepatah kata yang terucap pertama kali adalah yang paling jujur, dengan pepatah itulah artikel ini ditulis.
TPL adalah kegiatan yang tentunya sudah tidak asing lagi untuk seorang akademisi antropologi. Kegiatan ini dimaksudkan agar kita sebagai pembelajar antropologi lebih memahami kebudayaan dari berbagai masyarakat dan lebih tajam dalam melihat konteks.  Dengan turun ke lapangan selama beberapa hari, minggu bahkan bulan, membaur dengan masyarakat dan tidak semata-mata datang meneliti dan mencari data, kita diharapkan bisa menjadi antropolog yang kompeten di dunia dewasa ini.
Watukumpul dan sekitarnya adalah lokasi TPL yang pertama kali saya datangi. Desa yang terletak di perbatasan Pemalang – Pekalongan ini adalah desa yang cukup baik untuk diteliti karena dusun-dusun yang mempunyai keadaan geografis serta relief yang beragam dari di atas bukit sampai dekat sungai  dan bermacam-macam profesi  yang ditemui di sini bisa memberikan banyak bahan-bahan yang menarik untuk diteliti.  
Selama di Watukumpul saya tinggal di rumah seorang mantri kehutanan desa. Sebagai penjaga hutan beliau tentu banyak bercerita tentang hutan. Watukumpul adalah desa yang dikelilingi hutan yang luas. Hutan yang luas dimanfaatkan untuk menanam pohon mahoni dan glagah. Oleh karena itu desa ini terkenal dengan produksi sapu glagahnya.
Dibalik sulitnya sarana dan prasarana, keterjangkauan, pemadaman listrik setiap sore sampai malam hari, sampai masalah air bersih, ada hal yang menurut saya berkesan selama di Watukumpul.  Yaitu adalah bahasanya. Bahasa yang digunakan di daerah Watukumpul adalah bahasa ‘ngapak’ khas Banyumasan. Bahasa yang hampir sama dipakai oleh orang-orang di daerah Kebumen, Tegal  dan Cilacap. Secara dialek bahasa ngapak di Watukumpul terdengar lebih kasar dari bahasa ngapak di Kebumen. Perbedaan dari beberapa katapun saya jumpai dalam beberapa percakapan. Dari percakapan inilah saya mengetahui bahwa bahasa ngapak di Watukumpul ini seperti menjadi penghilang dinding pembatas antara orang yang lebih tua dengan anak-anak. Mereka seperti membaur menjadi sebaya jika sudah bercakap-cakap secara intens. Berbeda dengan bahasa ngapak di Kebumen yang masih ada penghalusan dibeberapa bagian katanya jika kita melakukan percakapan dengan orang yang lebih tua atau dituakan.  Bahasa yang disinyalir mulai ditinggalkan penggunanya karena stereotypenya ini malah menjadi bahasa gaul sehari-hari di Watukumpul. Hal inilah yang memberikan kesan pada saya bahwa bahasa ini ternyata masih ada penggunanya dan tidak mulai ditinggalkan.
Selain bahasa. Hal yang memberikan kesan adalah dalam cara mereka mendapatkan sepeda motor dengan sangat mudah dan murah. Seorang yang ingin membeli sepeda motor hanya perlu mengeluarkan uang sebesar dua juta rupiah sampai tiga juta rupiah. Dengan sejumlah uang tersebut dia sudah bisa menikmati sepeda motor baru yang dia inginkan. Tentu saja motor tersebut bukan motor yang dilengkapi dengan surat-suratnya, tetapi hanyalah motor dengan STNK saja. Hal ini termasuk tindakan kriminal pengaruh negatif dari kota.
Sebagai antropolog muda yang baru pertama kali mengikuti TPL. Bisa dibilang TPL kali ini cukup menyenangkan dan berkesan. Dari awal perjalanan sampai pulang secara keseluruhan merupakan perjalanan yang pantas dikenang. Beberapa contoh dari pengalaman saya di atas jika dikaji lebih lanjut tentunya akan menjadi bahan penelitian dan berpotensi menjadi pengetahuan baru. TPL ini adalah awal perjalanan. Setiap perjalanan pasti mempunyai kesan,  Yang lain biarlah menjadi dokumentasi pikiran pribadiku sendiri. Perjalanan itu bersifat pribadi, meskipun kita berjalan bersama. Perjalananmu bukanlah perjalananku (Paul Theorux).





Rabu, 18 Januari 2012

Aku Telah Habis dan Tenggelam

oldman on the bathroom by Picasso

Gelas itu sudah mulai penuh. Dipenuhi dengan tetesan air hujan yang menembus atapku. Memang tak ada niat buatku menyingkirkan gelas itu. Kunikmati saja tetes demi tetesnya hingga air mulai meluap keluar dari gelas. Aku masih duduk di kursi kecil sebelah meja. 

Terlalu malas bagiku untuk menyingkirkan air dari gelas, mungkin ini karena aku yang sedang panas. Aku biarkan air meluap, hingga meja menjadi basah. Biar basah juga aku yang sedang panas. Lalu luapan air itu menuju ke sudut meja. Membentuk seperti cermin. Aku seperti berkaca di atas meja dengan luapan air itu. Kupandangi setiap rautnya. Menyedihkan. Bayangan yang dibentuk air itu begitu menyedihkan bagiku. Seorang yang telah tenggelam dalam masa lamanya. Bayangan yang dibentuk air itu begitu menyedihkan.

Seorang yang telah tenggelam dalam masa lamanya. Tiba-tiba setetes air jatuh lagi, dia merusak gambar-gambar jaya orang itu. Ternyata orang itu aku. Aku ternyata terlena dengan masa lalu. Hingga setetes air jatuh lagi aku tenggelam didalamnya. Sebenarnya aku telah terjatuh. Tenggelam hingga sampai dasar. Tenggelam oleh masa lalu, bersamaan dengan tetesan air dari atap yang merusak gambar-gambar indah masa lalu. Aku tenggelam terlalu dalam hingga sulit untuk kembali ke permukaan yang penuh dengan kenyataan.

Bayangan yang dibuat oleh luapan air pun pecah. Ya itulah bentukku sekarang. Aku yang pecah oleh masa lalu. Terduduk diatas kursi dan disebelah meja. Melamun memandangi luapan air yang berisi kehebatan waktu dulu. Sampai bayangan itu pecah oleh tetesana, aku masih terdiam. Aku tak bisa kembali ke masa itu. Aku adalah orang masa lalu yang sudah habis masanya. Dan tenggelam dalam hebatnya sendiri.

Terinspirasi dari 'masa kini atlet masa lalu' oleh Nikolas Nino

Senin, 09 Januari 2012

Kita dan Senja Di Rumah Tua

Masih begitu jelas dimataku. tentang beberapa tahun yang lalu. Tentang sebuah rumah tepat disamping rumahku. Yang setiap sudutnya masih memiliki bagian diruang otakku. Rumah itu. dulu begitu ramai dengan tawa kita. Bahkan kadang rumput di halaman itu ikut tertawa dengan kita menemani sore yang menunggu senja menjemput. Tapi itu dulu. 

Beberapa tahun yang lalu. kini rumah itu masih ada masih disamping rumahku. Berbeda. sudah terlalu lama tampaknya hingga debu-debu tebal akrab sekali dengan setiap sudut rumah itu. Berdebu? Memang. Tua? Memang. 

Sudah terlalu lama kamu pergi dari sini. Aku kembali masuk ke halamannya. Mencoba kembali menyapa rumput yang biasa ikut tertawa bersama kita dulu. mereka sudah tua dan begitu pucat. Tapi memori itu masih begitu kuat. Membuat aku terbawa ke dalam beberapa waktu yang lalu. Hari itu kita masih bermain bersama. Sampai pada senja menjemput dan kamu mulai bercerita. Ceritamu membuat senja itu begitu sepi. Suara angin senja mengiri ceritamu. Hanya suaramu dan angin itu. Hari itu kita bermain terlalu lama. Hingga senja tak seperti biasanya. Dan kamu pun mulai bertanya. "Senja ini sepi ya?", itu tanyamu. "Selalu, kita tak pernah bermain hingga senja" ,balasku. "Kenapa kamu bertanya tentang senja?", tanyaku. "Nikmati senja ini saja, aku tak menyangka begitu menyenangkan ya", Begitu balasmu. tiba-tiba kau berkata, "mungkin sore besok akan seperti senja ini, sepi", aku terdiam. Senja menjadi malam dan kita pulang. 

Sore berikutnya datang lagi dan seperti biasa aku ke rumah itu. Dan apa yang kulihat. Halaman itu begitu kosong. Kemana ? Oh aku ingat. Ini seperti perkataanmu di sore yang lalu. Ya sore ini seperti senja, sepi. Aku duduk diatas rumput di halaman itu. Tertunduk. Rumput itu bersama angin bernyanyi berusaha menghiburku. Tapi aku masih terlalu biru atas perkataanmu senja yang lalu. Rumput dan angin pun kini menjadi bisu. ya ternyata senja itu waktu terakhirku bersamamu. Sampai rumah itu menjadi tua kamu masih belum kembali. ya kamu telah pergi. Bersama senja dan kata-kata terakhirmu. 


oleh : Nikolas Nino

Kamis, 05 Januari 2012

Phuket

Phuket adalah salah satu restoran di Jogja yang menyajikan menu makanan khas negeri gajah putih, Thailand. Makanan yang disajikan bagi saya dan dua orang teman saya, mengapresiasikan masakan di Phuket ini pantas mendapat 8 dari 10 poin. Saya merekomendasikan restoran ini jika anda lapar dan ingin marjinal antara dompet dan perut~


 WE EAT


 PHUKET


 UNTIL


DIE Photobucket

Minggu, 01 Januari 2012

Amy Jo Johnson - Kimberly


 Power ranger pink. Perempuan pertama yang aku anggap CANTIK!

Sabtu, 31 Desember 2011

Pilot


 Sebuah cita-cita masa kecil yang tak pernah bisa tercapai. Rasional saja, gigiku abnormal, mungkin akan remuk dalam ketinggian dengan tekanan tertentu, lepas dan menusuk kepalaku sendiri. Bukan cara keren untuk mati. Apalagi di dalam kokpit.
Photobucket

Minggu, 25 Desember 2011

Cerita Patah Hati



Ini hanya sebuah cerita yang muncul setelah aku melihat kelakuanmu.

Malam ini hujan deras sekali. Suara katak yang biasanya aku dengar bersautan dengan bunyi genting seng yang terkena tetesan hujan tak lagi aku dengar. Aku mengambil sebuah textbook. Membuka setiap halamannya satu persatu. Tapi aku tak membaca apapun. Banyak huruf yang bersatu menjadi kata dan kata berkait menjadi kalimat. Kalimat yang seharusnya diam dan bisa aku baca. Menjadi tidak bisa. 
Tiba-tiba deretan huruf itu bergerak, menari seirama dengan hujan deras di luar sana yang mengiringi seperti bunyi genderang. Huruf-huruf itu bergerak terbang membentuk namamu! Masuk dan menusuk-nusuk di dalam otakku! Otakku mendadak busuk. 

Dan.

Guntur menyadarkanku.

Nafasku terengah-engah, kamu yang berlari dalam pikiranku tapi mengapa aku yang kelelahan? Berbaring. Serasa berbaring di pecahan kaca. Perih masih terasa. Textbook tadi sudah aku buang jauh ke sudut kamar. Di luar hujan itu ribut sekali. Aku ingin tenang, kau perlu tahu wahai sabda alam! Angin dan hujan! Aku sedang patah hati! Ini gara-gara laras hati-ku telah hilang. Aku tak ingin jadi Rama yang kehilangan Shinta atau Rose yang kehilangan Jack. Aku tak mau kalah dengan nasib! Aku bukan pria yang nasib romansanya dihancurkan oleh pria jahanam yang sekarang bersamanya!

Remuk redam.

Gelap. Lalu terang. Berulang kali aku mencoba tidur tapi hasilnya nihil.

Hatiku tergores oleh kalian yang tajam. Kejam. Sekarang tak hanya tergores tapi telah sobek. Cintamu adalah Phyton! Kau peluk aku sambil perlahan kau remukan. 

Dan aku yakin silet ini bisa mengalihkan rasa sakitku dari hati ke jari.

Jatuh cinta dan patah hati bisa membuat kita bodoh seketika. Aku lihat luka di jariku. Patah hatiku lebih sakit daripada luka ini.
Perlahan dengan perih tertahan. Jejak darah namamu pada tembok kamar ini adalah bukti bahwa aku tak mau kehilangan kamu.

Senin, 19 Desember 2011

Wisata Kuliner Solo



 Kami akhirnya pulang kembali ke Djokja tercinta dengan selamat. Setelah menikmati wedang asle , timlo, es karamel, teh poci dan makanan khas solo di wedangan, kami ucapkan terimakasih Solo untuk kuliner dan suasananya. Kami pulang dengan senang dan kenyang Photobucket


Sabtu, 17 Desember 2011

Sajojo


Ini saya sewaktu kemarin tampil di acara inagurasi fib, benar-benar menjadi mirip dengan suku bangsa papua asli. Rambut dibuat tampil beda. Dikepang oleh putri papua asli dan dimodel zig-zag ala Jaden Smith. Tubuh dilukis dengan penuh seni oleh seniman asli tanah Papua. 
Maka dengan ini saya lebih menghargai suku bangsa papua. Hidup Papua jaya untuk Indonesia raya! Photobucket

Jumat, 16 Desember 2011

Untuk Kamu Yang Aku Rahasiakan Namanya

Suatu saat setelah hujan, aku dari jendela melihatmu. Memang kamu hanya duduk dan berbincang. Tapi Itulah pelangi yang sebenarnya
Dulu aku merindukan pelukanmu di bawah hujan. Sekarang hujan mengingatkanku, hanya dengan doa aku bisa memelukmu

Rabu, 14 Desember 2011

Folks Games #Sobyong

SOBYONG

Sobyong merupakan permainan tradisional yang menggunakan kata sebagai bentuk daripada permainan ini. Sobyong bisa dimainkan oleh siapa saja dan tidak harus selalu kata permainan itu identik dengan anak – anak, menurut yang saya temui dalam observasi saya tentang permainan sobyong ini pemainnya tidak selalu anak – anak tetapi ada remaja yang masih memainkan permainan ini juga. Jumlah pemain dalam permainan ini harus lebih dari 1 orang untuk dapat bermain. Permainan ini menggunakan kosakata sebagai inti permainan, biasanya adalah nama suatu tempat (kota), benda, nama orang terkenal, dan lain sebagainya tergantung dengan kesepakatan para pemain ingin menggunakan kata apa, misalnya didapati kesepakatan sobyong nama suatu tempat (kota) maka yang boleh disebutkan nama – nama kota saja, contohnya : Semarang, Surabaya, Solo, dan lain sebagainya. 

Cara bermain sobyong ini yaitu dengan menggunakan jari – jari tangan. Pertama, para pemain duduk melingkar lalu masing – masing pemain mengeluarkan jarinya dengan bebas sesuai dengan keinginan masing – masing pemain, setelah para pemain mengeluarkan jarinya maka jari – jari tersebut akan dihitung, bukan menggunakan angka tetapi dihitung sesuai abjad, misalnya terdapat 10 jari yang dikeluarkan maka akan muncul huruf “J” sebagai urutan abjad ke 10. Huruf “J” akan menjadi kunci dalam permainan pertama, yaitu seluruh pemain harus mengucapkan suatu hal yang telah menjadi kesepakatan yang diawali dengan huruf “J”, kesepakatan mengenai suatu hal tersebut ditentukan sebelum permainan dimulai, semisal menurut kesepakatan yang disebutkan haruslah nama sebuah kota maka seluruh pemain harus mengucapkan nama sebuah kota yang diawali dengan huruf “J” contohnya : Jember, Jakarta, Jambi, dan lain sebagainya. Permainan pada huruf “J” ini berhenti ketika nama yang diawali dengan huruf “J” ini habis atau para pemain tidak bisa menjawab lagi yang lainnya. Mengenai jumlah jawaban, setiap pemain bebas menjawab jumlah jawaban tersebut bahkan hingga jawaban pada sebuah huruf habis.

Jika ada yang tidak bisa menjawab, tidak selalu diberlakukan penghukuman, kalaupun ada hukuman macamnya hukuman itu ditentukan sesuai dengan keinginan kelompok, karena yang telah saya temui dalam dua kumpulan anak yang memainkan “Sobyong” ini ada yang menerapkan hukuman, tetapi ada yang tidak. Yang tidak menerapkan adanya hukuman, maka jika ada yang tidak bisa menjawab mereka lanjut bermain lagi hingga seluruh huruf dalam abjad habis digunakan, sedangkan yang menerapkan hukuman maka yang tidak bisa menjawab akan dikenai hukuman setiap selesai satu huruf permainan, setelah itu lanjut lagi dengan huruf selanjutnya sesuai dengan jari yang dikeluarkan lagi. Permainan ini dinilai selesai seluruhnya jika dari huruf “A” sampai dengan “Z” sudah semua mendapatkan urutan, urutan huruf yang keluar tidak harus urut sesuai dengan abjad tetapi sesuai dengan jari yang keluar, lalu ketika ada huruf yang mendapat urutan lagi semisal sebelumnya “I” telah digunakan lalu saat dihitung lagi “I” keluar lagi maka huruf “I” tidak digunakan lagi dan harus diganti dengan huruf yang lainnya. 

Ada juga ditemukan kecurangan – kecurangan yang dilakukan para pemain dalam permainan sobyong ini. Kecurangan itu contohnya memelesetkan nama suatu hal yang menjadi kesepakatan atau menyebutkan nama suatu hal yang tidak sesuai dengan kesepakatan. Contohnya, ketika tiba urutan pada huruf “A” yang harus disebutkan adalah nama kota, tetapi ada yang menyebutkan Australia, maka pemain yang menyebutkan Australia itu dikatakan curang karena Australia adalah nama Negara bukan sebuah kota, sedangkan sesuai kesepakatan yang harus disebutkan adalah nama kota. Lalu mengenai pemain yang melakukan curang tidak dikenai hukuman, dia diharuskan menjawab hingga semua telah disebutkan, jika semua nama telah disebutkan dan pemain yang curang tadi masih belum menjawab yang benar maka selanjutnya sesuai dengan kesepakatan para pemain, dikenai hukuman atau tidak seperti yang saya sebutkan pada paragraf sebelumnya, hukuman bukan karena melakukan curang tetapi karena tidak bisa menjawab. Sehingga mengenai yang curang tidak ada hukuman bagi pemain tersebut selama dia masih bisa menjawab setelah melakukan hal yang curang tadi.  Biasanya pemain yang curang ini karena dia kehabisan akal dan tidak bisa menjawab lagi.

Menurut beberapa anak dan remaja yang saya temui, dalam permainan sobyong itu yang membuat permainan ini menjadi seru adalah ketika ingin mengutarakan jawaban tetapi kesulitan, sehingga jawaban yang telah ada didalam pikiran pemain tidak dapat terutarakan, bahkan bisa dijawab lebih dulu oleh pemain yang lain hingga tidak ada jawaban lagi. Selain itu yang membuat permainan ini seru, menurut informan saya adalah ketika menekan para pemain yang lain dan memojokkan pemain yang lain serta menghabiskan jawaban yang ada hingga pemain yang terpojokkan tersebut tidak dapat menjawab. Yang saya temukan dalam hal ini adalah bagaimana para pemain tersebut saling mendahului menjawab, lalu ketika jawaban sudah didahului oleh pemain lain hingga tekanan yang dilakukan pemain lain hingga jawabannya habis membuat permainan ini menjadi seru. Tekanan tersebut berupa desakan untuk sesegera mungkin atau secepat mungkin menjawab, menurut saya hal ini yang menyebabkan apa yang sudah dipikirkan tidak bisa diutarakan bahkan didahului oleh pemain lain, karena tekanan yang dilakukan pemain lain membuat pemain yang ditekan ini terburu – buru untuk menjawab atau bahkan tidak bisa menjawab tentang apa yang dipikirkannya. Didalam permainan ini menurut saya juga diajarkan untuk konsekuen, karena dalam permainan ini ditemukan aturan – aturan untuk mengatur berlangsungnya permainan ini, ada juga yang memberlakukan hukuman maka yang tidak bisa menjawab harus menjalani hukuman sebagai sikap konsekuen dari mengikuti permainan ini. Permainan ini juga untuk melatih ketenangan, karena ada tekanan dari pemain lain yang mendesak kita untuk segera menjawab dan membuat kita terburu – buru untuk menjawab hingga pemain tidak bisa berpikir dengan tenang. Konsekuen untuk menjalani aturan – aturan dan ketenangan dalam berpikir ini menurut saya merupakan nilai yang diajarkan dalam permainan ini. Dengan bermain anak diajarkan untuk konsekuen dengan aturan – aturan yang dibuat, dan anak juga diajarkan untuk bermusyawarah yaitu dengan menentukan hukuman, karena dalam permainan ini hukuman tidak pasti karena hukumannya dalam setiap kelompok permainan berbeda, hukuman pun ditentukan oleh anak – anak yang bermain sendiri dan nantinya yang menjalin hukumannya adalah mereka sendiri sebagai konsekuensi atas yang mereka sepakati. 
Anak juga diajarkan juga untuk tenang dalam mengambil keputusan, dengan tekanan – tekanan yang dilakukan oleh pemain lain untuk segera menjawab, maka seolah anak dilatih untuk berpikir dan memutuskan sesuatu dengan tenang supaya benar, karena jika terburu – buru dan salah maka anak akan mendapatkan hukuman sebagai akibat dari salahnya memutuskan sesuatu tadi.

oleh : Nino Citra A
gambar : thinking-on-these-things.blogspot.com

Folks Games #Hompimpa

Permainan Hompimpa

Salah satu permainan sederhana yang sering kita lakukan sebelum memulai permainan atau menentukan giliran permainan adalah hompimpa. Di Kebumen tepatnya di perumahan Tamanwinangun Indah, daerah di mana saya tinggal,  hompimpa ternyata masih populer dan sering dilakukan oleh anak-anak kecil terlepas dari generasi saya. Tidak mudah untuk bisa melihat mereka bermain atau secara langsung datang dan berada di dekat mereka. Karena saya khawatir kedatangan saya bisa-bisa malah mengganggu keasyikan mereka bermain dan mereka menjadi canggung untuk bermain. Saya berada di dalam rumah, melihat dan mendengarkan mereka (6 orang anak kecil dan mereka adalah anak-anak tetangga saya). Hompimpa digunakan oleh anak-anak untuk menentukan giliran dalam sebuah permainan (biasanya petak-umpet atau bola dalam menentukan lawan dan kawan). Sewaktu bermain petak umpet misalnya, anak yang kalah hompimpa mendapat giliran sebagai penjaga pos.
Hompimpa adalah sebuah permainan verbal yang biasanya dilagukan, jarang sekali saya melihat hompimpa yang tidak dilagukan. Fungsi dari hompimpa adalah untuk menentukan siapa yang menang dan kalah dengan menggunakan dua sisi telapak tangan, bagian atas dan bawah. Hompimpa dilakukan oleh minimal tiga orang peserta secara bersama-sama, peserta mengucapkan kata hom-pim-pa (biasanya juga ada kata (lirik) tambahan yaitu ‘alaium gambreng!’. Ketika mengucapkan suku kata terakhir entah itu ‘pa’ atau ‘breng’, masing-masing peserta memperlihatkan salah satu telapak tangan dengan bagian dalam telapak tangan menghadap ke bawah atau ke atas.
Di daerah saya ini, hompimpa yang dimainkan adalah hompimpa dengan lirik ‘hompimpa alaium gambreng, Kasimun pake baju rombeng’, Kasimun yang disebutkan tadi adalah seorang laki-laki yang sedikit ‘kurang waras’ dan sering berada disekitar komplek perumahan. Ternyata Kasimun masih terkenal dekat dengan anak-anak karena pada saat saya kecil memang Kasimun sering ikut bermain bola bersama saya dan teman-teman saya.  Pemenang hompimpa adalah peserta yang memperlihatkan telapak tangan yang berbeda dari para peserta lainnya. Tetapi semua tergantung kesepakatan para pemainnya. Ada kalanya yang berbeda adalah yang kalah. Ketika peserta lainnya sudah menang, peserta yang kalah ditentukan oleh dua peserta yang tersisa dengan melakukan suit/sut/suwit.
Sementara itu, (sut) atau populer sebagai suit (suwit) dan pingsut adalah cara mengundi untuk dua orang dengan cara mengadu jari untuk menentukan siapa yang menang.
Jari yang dipergunakan dalam sut adalah ibu jari, jari telunjuk dan jari kelingking yang masing-masing diumpamakan sebagai gajah, manusia dan semut. Dua orang yang ber-suwit secara serentak mengacungkan jari yang dipilihnya. Hasil seri terjadi bila kedua belah pihak yang bersuwit mengacungkan jari yang berkekuatan sama, misalnya: kelingking melawan kelingking. Bila terjadi seri, suwit diulang hingga ada pihak yang menang.
Jari yang menjadi pemenang suwit:
* Ibu jari versus telunjuk: pemenang adalah ibu jari.
* Telunjuk versus kelingking: pemenang adalah telunjuk.
* Kelingking versus ibu jari: pemenang adalah kelingking.
Suwit bisa dilakukan sekali untuk menentukan pemenangnya atau tiga kali dengan syarat 2x kemenangan.
Suwit yang dilakukan pun bermacam-macam jenisnya, suwit yang disebutkan di atas adalah suwit ‘jawa’ yang juga secara kebetulan dimainkan oleh keenam anak di perumahan saya itu. Ada jenis suwit lain yaitu suwit Jepang. Berbeda dengan suwit jawa, suwit jepang menggunakan aturan gunting, batu dan kertas. Formasi jari dibentuk sesuai dengan gunting, batu dan kertas tersebut. Dan Aturan menentukan pemenang sama seperti suwit jawa. 



Hompimpa dalam Makna

Hom bisa berarti dari Tuhan kembali kepada Tuhan (usut punya usut dari bahasa cina). Ada yang bilang artinya adalah Semoga Tuhan menjaga kita semua. Jadi. Semua makhluk berasal dari Tuhan dan pasti akan kembali kepada Tuhan, tidak ada yang abadi jadi hendaknya kita minta perlindungan kepadaNya. Kata ‘alaium gambreng’ diartikan 'mari kita bermain' dan juga sebagai kata yang digunakan untuk menyentak kita agar sadar akan hal (hom) tersebut. Jadi jika diartikan bisa menjadi "Dari Tuhan kembali kepada Tuhan, mari kita bermain!' atau 'Semoga Tuhan menjaga kita semua, mari kita bermain!'
Dan salah satu hal unik yang bisa kita dapat dari hompimpa atau dengan kata lain fungsi laten hompimpa adalah dalam penanaman budaya demokrasi bangsa kita yang secara tidak sadar telah ada sejak kecil bahkan lebih memiliki nilai-nilai luhur dan dijamin sangat jujur, bersih, efisien dan aman. Permainan identik dengan anak-anak dan anak-anak selalu dikaitkan dengan imajinasi. Oleh karena itu tidak ada salahnya kita berimajinasi andai saja dengan “Hompimpa” wakil rakyat dipilih maka pemerintah pusat maupun daerah tidak perlu mengeluarkan banyak anggaran untuk memilih para wakil rakyat, pilpres, dan pilkada. Dengan “Hompipa” juga kita bisa menghapuskan pandangan rakyat tentang pemilihan wakil rakyat sekarang adalah perjudian yang dilegalkan. Selain itu dengan hompimpa tidak perlu terjadi pengerahan massa yang berpotensi rusuh dan anarkis. Aparat keamanan bisa berjaga dengan santai dan tenang. Dengan “Hompimpa” juga akan mengurangi terjadinya suap-menyuap, barang siapa melakukan suap tentu akan lebih mudah terlihat. Dan mengenai masalah hasil? dijamin kualitas wakil rakyat minimal setara mereka yang dihasilkan oleh pemilu biasa.

Jumat, 02 Desember 2011

Ketika Cantik Itu






Pada suatu saat di Facebook, aku dan Genjik mencoba mendeskipsikan tentang cantik