Sabtu, 21 Desember 2013

Komik-Komik Kerakyatan







Setelah Gundala Putra Petir karya Harya Suryaminata, Godam karya Wid. NS dan komik-komik pewayangan karya R.A Kosasih, nyawa jagad komik Indonesia seperti kehilangan suara. Komik di Indonesia pernah mengalamai masa kejayaan pada tahun 1968 sampai 1970an. Pada era ini komik-komik yang banyak hadir kebanyakan adalah komik-komik bertemakan superhero karena terinspirasi dari komik-komik amerika yang pada saat itu sedang meledak-ledaknya komik superhero Marvel dan D.C Comic. Dalam dunia komik superhero, Yogyakarta bisa disamakan dengan New York. Mengapa? New York memiliki Spiderman, Flash, dkk sementara di Yogyakarta hidup Gundala dan Godam.
Tetapi sejak masuknya manga dan komik-komik Amerika yang makin beragam, komik Indonesia mulai kehilangan suara. Penikmat komik Indonesia kala itu menganggap komik-komik luar negeri lebih variatif dan kreatif—baik dari segi gambar maupun cerita. Pada saat itu gambar maupun cerita komik Indonesia dianggap terlalu monoton, tidak menarik dan belum ada inovasi yang mampu membuat penikmat komik semakin gandrung pada komik Indonesia.
Namun tidak bisa dipungkiri bahwa semakin lama, gambar komikus Indonesia semakin bagus bahkan terdengar nama seperti Chris Lie dan Ardian Syaf yang telah melalang buana sampai luar negeri karena kemampuan menggambar komiknya yang diatas rata-rata. Namun komik yang baik tidak cukup hanya mengandalkan gambar yang bagus. Cerita pada komik juga merupakan elemen yang sangat penting.
Komikus Indonesia banyak yang terlalu sibuk memikirkan hal teknis dan kadang terlalu berada ”di bawah tanah” atau merangkap sebagai desaine atau animator (tidak menjadikan komik sebagai lahan utamanya) sehingga tidak bisa dipungkiri terdapat jarak yang jauh antara komikus Indonesia dengan masyarakat. Hal ini mengakibatkan cerita-cerita yang diangkat ke komik oleh komikus Indonesia terkadang tidak sesuai dengan isu-isu, pengalaman-pengalaman kultural yang ada pada masyarakat.
Setiap individu yang membaca komik tentu memiliki interpretasi yang berbeda antara satu pembaca dengan pembaca lainnya walaupun membaca komik yang sama. Interpretasi itu dibentuk oleh faktor fenomenologis yaitu pengalaman, latar belakang sosial, dan pengetahuan dasarnya. Berangkat dari asumsi ini bisa dikatakan bahwa semakin “dekat” cerita dalam komik dengan kehidupan sehari-hari pembacanya atau semakin “akrab” suasana yang dibangun oleh cerita dalam komik maka semakin komunikatiflah komik tersebut.
Biennale Jogja XII Equator #2 memberikan kesempatan kepada komikus Indonesia untuk menghadirkan komik-komik mereka yang masih “indie” untuk disebarluaskan kepada khalayak. Hal yang berbau “indie” tidak terkecuali komik, biasanya memang dirasa lebih nikmat dihati. Kebanyakan komik yang dipamerkan di Biennale Jogja XII Equator #2 (termasuk rangkaian acaranya) adalah komik-komik "kerakyatan" yang sangat memposisikan komik sebagai objek kultural sehingga lebih memiliki arti dan makna yang “pas” karena ceritanya dikaitkan dengan fenomena-fenomena kultural atau pengalaman sehari-hari pembacanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar